Love is a Story Without Ending #Prequel (Short Story)

Posted by Unknown , Sunday, March 30, 2014 3:50 AM


Hey semuanya. Ini adalah cerpen kedua dari Love is a Story Without Ending. Tapi tapi tapi. Ini adalah Prequelnya jadi kejadiannya terjadi sebelum Love is a Story Without Ending #1 (x) Sooo enjoy guys xx


Love is a Story Without Ending #Prequel
(As The Van Der Wijck Fell)

2 minggu sudah berlalu sejak Ben mengatakan kata-kata yang menyayat hatiku. Aku masih mengingat rasanya pisau kata-kata itu menusuk tepat di jantungku. Rasa sakitnya masih dapat aku rasakan.
Aku merasa senang ketika guru Bahasa Indonesiaku memberi tugas membaca roman. Karena aku sangat suka membaca buku. Karena buku selalu menjadi teman bagiku. Buku selalu menjadi jalan keluarku dari dunia yang kejam ini. Buku selalu ada untukku. Dengan buku aku dapat meredam rasa sakitku. Dengan buku aku selalu yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.
Untuk tugas itu aku memilih roman berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck  karya Hamka. Tugas itu menjadi tugas kelompok dengan ketentuan murid yang memilih roman yang sama otomatis akan menjadi satu kelompok. Aku kebetulan sekelompok dengan Sherly. Tugas itu juga nantinya kami disuruh maju untuk membaca sinopsisnya.
“Tapi kalau baca gitu doang di depan boring ya gak?” Kataku kepada Sherly.
“Iya sih, jadi mau digimanain?”
Aku langsung menemukan sebuah ide. “Eh gimana kalau dibikin drama aja deh? Waktunya masih lama kan?”
Nggak. Waktunya bentar lagi. Tugas itu sudah diberikan seminggu yang lalu dan aku hanya punya waktu 1 minggu lagi untuk menyelesaikan romannya. Biasanya aku bisa menghabiskan novel paling lama yah 5 hari lah tapi sekarang entah kenapa kemampuan aku menurun. Memang sejak putus dengan Ben aku tidak pernah menyentuh novel apapun. Aku menyesali itu.
Ngomong-ngomong tentang Ben dia memilih roman Salah Asuhan. Saat mengetahui kalau dia beda kelompok aku sedikit kecewa. Karena aku ingin sekali bersama dengannya. Aku masih menyimpan harapan yang besar. Bodoh aku tahu itu.
Tapi kembali ke tugas. Saat hari Sabtu barulah kelompok Van Der Wijck ngumpul bareng. 2 hari sebelum waktu pengumpulan tugas. Dan kami berkumpul saat pulang pemantapan. Yang benar saja.
“Mau bacain gitu aja?” Tanya Robb.
“Itu Alina punya ide katanya mau dibikin drama gitu.” Kata Sheryl. “Tapi bisa keburu gak ya?”
“Bagus sih tuh, tapi gak akan ada latihan.” Kata Dini. “Emang pemainnya mau siapa?”
Aku menyeringai. “Vita jadi Hayati, Robb jadi Zainuddin terus Jason jadi Aziz ya?” Kenapa aku memilih mereka bertiga? Karena Vita adalah mantan Robb dan Jason menyukai Vita jadi yah...
“Ih gak mau.” Kata Vita tiba-tiba. “Aku gak pinter main drama.”
“Yah gak apa-apa cobain aja.” Kataku.
“Nggak ah, plis jangan aku.” Vita memohon dan aku pun mengangguk.
“Ya udah, jadi siapa dong nih yang jadi Hayati? Pokoknya Zainuddin sama Aziznya Robb sama Jason aja ya?” Kata Sheryl. “Oh ya terus Reza jadi Muluk ya sama Dini jadi Mak Base.”
“Terus yang lainnya gimana?” Tanya Suri.
“Yang lain bacain sinopsisnya jadi nanti kita berenam gantian baca sinopsis terus nanti di selipin drama oleh mereka berlima. Gimana?” Kata Sheryl dan semuanya hanya mengangguk. “Nanti aku post  di blog aku sinopsis sama naskah dramanya.”
“Yah bagus tapi ini Hayatinya siapa?” Kataku.
“Oh iya.” Kata Sheryl. “Suri aja deh mau gak?”
“Ih nggak ah.” Kata Suri. “Alina aja gimana?”
Aku langsung kaget dan melirik Sheryl. Hey sebenarnya aku mau kok tapi keep it cool. “Kenapa aku? Kamu aja Sher.” Plis gak usah mau Sher.
“Ah gak mau.” Horeee. “ Udahlah kamu aja Lin. Ya semua setuju kan?”
“Iya Alina aja dah.” Kata Dini. “Beneran yang main drama gak akan latihan?”
“Gak apa-apa lah. Yang penting nanti naskahnya ada. Postnya jangan kelamaan ya Sher.” Kata Robb.
“Iya pokoknya pantengin aja blog aku.” Kata Sheryl. “Ya udah jadi sekarang semua boleh pulang. Berdoa aja semoga Senin lancar.”
Aku pun berjalan ke depan gerbang bersama Sheryl. Kami berdua sempat mencari Cecil dulu tapi nampaknya dia sudah pulang duluan.
“Eh kamu udah selesai kan baca romannya?” Tanya Sheryl sebelum kami berpisah.
“Eh hahahahaha belum.” Kataku dengan wajah sok datar.
“Ciah selesain dulu dong kan kamu jadi Hayati.” Kata Sheryl.
“Iya deh iya. Eh aku udah di jemput tuh. Ngomong-ngomong nanti kalau udah di post bilang ya!”

Aku menyelesaikan roman Van Der Wijck sehari saat hari minggu. Malamnya barulah Sheryl memberitahuku kalau naskahnya sudah dia post. Aku pun langsung memeriksa blog Sheryl. Naskahnya digabung dengan sinopsis romannya dan setiap beberapa paragraf sinopsis ada selipan satu adegan dari buku. Aku pun membacanya sekilas sebelum rasa malas menguasaiku dan akhirnya kantuk pun melahapku.

Pagi itu di sekolah aku langsung duduk di samping Cecil dan langsung mengeluarkan sebuah selendang dari tasku.
“Ngapain kamu bawa selendang?” Tanya Cecil
“Ih kan sekarang aku jadi Hayati.” Aku pun mengenakan selendanganya dan berpura-pura menjadi cewek baik-baik seperti tokoh Hayati. Aku pun berbicara sedikit mendramatisir kepada Cecil dan Sheryl.
“Diem napa Lin.” Seru Sheryl. “Kamu sih pakai selendang tetep aja keliatan tomboy. Malahan kelihatan nambah ganteng.”
Aku pun mendorong pelan Sheryl. “Dasar. Eh mau lihat naskah dong, aku belum ngapalin nih.”
“Ya ampun Alina, kan tampil sekarang kenapa gak dihapalin?”
“Males.” Kataku. “Udah mana ah? Mumpung masih ada waktu nih.”
Aku pun dengan serius membaca naskahnya walau aku tidak menghapalnya. Bel pun berbunyi tidak lama kemudian dan kami semua turun untuk upacara. Setelah upacara adalah pelajaran Matematika. Nooooo. Sebelum pelajaran dimulai, guru matematika sekaligus wali kelasku mengocok tempat duduk kami. Noooo. Aku kebagian duduk dengan Auriel, Sheryl dengan Halim dan Cecil, Cecil duduk dengan Ben. Nooooo. Tapi hey lumayan nih bisa modus.
Untungnya kami tidak belajar apa-apa jadi ada waktu luang untuk mempelajari naskah lagi. Aku memutuskan untuk mengampiri bangku Cecil. Lumayan, modus. Aku tersenyum sambil menyapa Cecil walau yang aku perhatikan adalah Ben. Ben hanya diam dengan wajah datarnya sambil menatap layar ponselnya. Aku berusaha menarik perhatian Ben tapi ugh semuanya gak berhasil. Yang ada Ben malah pergi. Sialan.
 Bel kembali berbunyi dan saatnya pelajaran Bahasa Indonesia. Gurunya datang tak lama setelah bel berbunyi dan jantungku langsung berdebar kencang. Dengan gugup aku membaca naskahnya sekali lagi sambil terus memainkan selendang.
“Ya anak-anak sekarang tampil membacakan sinopsis roman.” Kata guru Bahasa Indonesia, Bu Endah. “Kelompok pertama, silahkan maju kelompok—“
Ohmygod jangan aku jangan aku jangan aku.
“Kelompok Van Der Wijck.”
Nooooooooo.
Aku melirik Sheryl dan dia mengangguk padaku sambil berjalan ke depan. Aku langsung mengikuti Sheryl dari belakang. Ada 11 orang dalam kelompok ini dan mereka semua terlihat gugup. Sheryl mempersiapkan satu meja di tengah-tengah dan Dini mempersiapkan presentasi untuk latarnya. Setelah semuanya siap barulah Sheryl memberi salam dan memperkenalkan anggota kelompok kami.
Vita lah yang membaca sinopsis yang pertama. Setelah Vita selesai barulah sebuah adegan drama dimulai. Adegannya diperankan oleh Robb sebagai Zainuddin dan Dini sebagai Mak Base. Setelah itu Devi membaca sinopsis lagi dan adegan berikutnya adalah adeganku. Tanganku mulai berkeringat dan jantungku berdebar kencang saat aku mulai mendekati Robb. Entah kenapa dia dapat membuatnya lebih mudah. Semua dialog dapat diimprovisasikan dengan baik berkat bantuannya. Saat adegan kedua itu selesai aku meninggalkan tempat dan dengan tidak sengaja melirik Robb dan Robb tersenyum sambil mengangguk. Whoa perasaanku...
Aku kembali ke depan sambil melewati bangku Ben. Ben sedang menatap layar ponselnya dengan headset terpasang ke telinganya. Jadi dia dari tadi gak memperhatikan? Macam apa dia nih.
Sinopsis dramanya pun berlanjut dan adegan terakhir pun dimulai. Adegan itu adalah adegan aku berbaring di atas meja sambil sekarat. Aku merasa sangat tidak nyaman harus berbaring. Rasanya terlalu mengekspos. Robb berada di sampingku dan saat kalimat terakhirku, teman-teman sekelasku berteriak ‘Pegang tangannya’ dan itulah yang Robb lakukan. Secara tiba-tiba tanganku digenggamnya. Whoa rasanya...
Aku pernah memegang tangan laki-laki sebelumnya. Aku pernah menggenggam tangan Ben tapi saat itu aku tahu dia tidak nyaman bersentuhan dengan cewek. Tapi ini...
Ini semua gak mungkin. Aku hampir tidak pernah mengatakan satu kata kepada Robb. Aku pernah membenci Robb. Aku gak mungkin suka dia. Tapi apa yang aku rasakan ini? Saat Robb melepaskan tangannya dan adegan itu selesai aku masih bisa merasakan rasanya tangan Robb menggenggam tanganku. Tanganku serasa terbakar di tempat Robb menyentuhnya. Apa yang aku rasakan ini sebenarnya?

Keesokan harinya saat pelajaran olahraga aku, Sheryl, Cecil dan Dini sedang mengobrol di bawah pohon dan tiba-tiba Sheryl mengungkti drama kemarin.
“Eh Alina, kamu move on ke si Robb aja sana.” Kata Sheryl.
“Ih apaan—Nggak ah kenapa harus ke Robb?”
“Iya soalnya kemarin pas drama tuh kalian kayak ada chemistry gitu.” Kata Sheryl. “Iya gak Cil?”
“Iya bisa jadi bisa jadi.” Tipikal jawaban Cecil.
“Tapi iya tahu, kalian kayak wah gitu. Keliatan banget chemistry-nya” Kata Dini.
“Tuh kan. Udah move on ke Robb aja, sampai kapan mau ngegalauin Ben terus?” Kata Sheryl sambil melirik Ben.
“Nggak ah. Lagian masalah chemistry sih gak harus berarti suka kan?”  Kataku sambil mencoba menghilangkan ingatan saat Robb menggenggam tanganku. Damn. “Dan jangan bawa-bawa Ben lagi. Tabu, ya kan Cil?”
Cecil dan aku pun tos. “Iya ah gak boleh ngomongin mantan. Tabu.”
“Nah makannya kita ngomongin Robb.” Kata Sheryl. “Pokoknya aku bakalan terus-terusan gangguin kamu sampai kamu suka Robb.”
Okay. “Jangan ah, Sher. Emangnya si Robb udah move on dari Vita?”
“Gak tahu tapi tetep aja aku mau gangguin kamu.” Kata Sheryl sambil ketawa.
Aku mencoba menahan senyuman mau tapi maluku dan aku pun berhasil memasang wajah datar. “Terserah kamu ah.”

Hari demi hari telah berlalu sejak drama itu dan Sheryl menepati kata-katanya. Dia terus menggodaku dengan Robb. Bahkan Sheryl menyebarkan gosip palsu tentang aku move on ke Robb tapi Sheryl hanya memberitahu teman-teman terdekat kami.
Aku harus mengakui kalau mungkin usaha Sheryl membuat tembok yang menghalangi hatiku mulai roboh. Aku membangun tembok itu untuk menahan rasa sakit yang ditimbulkan Ben. Aku membangunya agar aku tidak jatuh cinta untuk sementara ini. Tapi sedikit demi sedikit tembok itu roboh.
Aku tidak akan berbohong. Aku memikirkan Robb. Aku mungkin menyukainya tapi aku tidak boleh melakukannya. Aku tahu dia akan menyakitiku. Aku tidak pernah mengobrol dengannya, dia—Aku tak tahu, dia seperti berada di luar jangkauanku. Aku selalu menganggap kalau Robb itu cowok kalangan populer, playboy dan pokoknya sangat di luar jangkauanku. Aku tahu kalau aku suka dia itu akan sia-sia. Aku harus menghilangkan perasaanku padanya.
Tapi sepertinya, semua itu tidak berhasil. Aku tidak dapat membujuk Sheryl untuk menghentikan tindakannya dan yang lebih parahnya adalah aku seperti menjadi lebih dekat dengan lingkaran Robb. Kami sekelompok lagi saat pelajaran Bahasa Sunda untuk drama nanti. Saat itu aku, Sheryl dan Cecil sedang resah mencari-cari kelompok. Sebenarnya kami sudah merencanakan akan sekelompok dengan Ummi dan Mary yang merupakan teman dekat kami bertiga tapi mereka membatalkan rencana itu. Pada akhirnya kami bertiga mendapatkan Robb, Jason dan Baim.
Semuanya semakin parah. Aku semakin tidak dapat menghilangkan Robb dari pikiranku. Aku mencoba untuk tidak memperlihatkan kemungkinan aku suka padanya. Tapi aku tidak bisa. Saat pelajaran kesenian, aku duduk bersama Sheryl dan di bangku depan ada Cecil dan Dini. Di barisan samping ada Robb dan Ari. Sheryl mengobrol dengan Robb dan walau aku tahu kalau Sheryl suka Ari tapi tetep aja rasanya ngeselin. Mereka sedang membahas drama Sunda. Rasa kesalku mereda saat aku ingat kalau Sheryl memilihku menjadi pemeran yang akan berpasangan dengan Robb.
Tapi tetap saja aku tidak suka melihat Sheryl bercanda dengan Robb. Aku pun menutup laptopku dan berjalan ke meja Ummi. Ummi meminta maaf karena membatalkan rencana. Aku masih kesal tapi aku tetap memaafkannya. Aku pun kembali ke bangku Sheryl. Ternyata bangkunya telah diduduki oleh Robb. Dengan tangan yang bergemetar aku mengambil laptopku dari meja. Dan langsung pergi ke belakang dan aku pun duduk bersama Vita. Kami duduk dalam kesunyian dan selama itu aku masih memikirkan Robb. Aku tidak dapat menahannya. Aku harus menceritakannya pada seseorang.
Saat bel pulang aku menghampiri bangku Cecil.
“Eh Cil, aku mau cerita.” Kataku.
“Mau cerita apa nih?”
Aku menarik nafas. “Jadi gini. Sheryl kan sering banget godain aku sama Robb dan yah aku sebenernya mikirin itu sih. Jadi bikin galau. Aku kayak mulai suka sama Robb tapi aku gak mau suka sama dia.”
“Wah berhasil nih berarti si Sheryl.”
“Bisa jadi. Pokoknya kamu tahu lah si Robb itu tipe cowok yang gitu. Aku takut suka sama dia. Dia itu serasa diluar jangkauan aku banget.”
“Maksudnya?”
“Yah pokoknya dia tipe cowok yang aku tahu aku gak mungkin bisa dapetin dia. Tapi ah perasaan aku aneh banget. Aku suka sama dia tapi aku mencoba untuk gak suka sama dia, Cil.”
Cecil diam sejenak sebelum berkata: “Bukannya mau bikin kamu down ya, Lin. Tapi kalau dilihat-lihat dia tuh kayak lebih deket ke Sheryl.”
Jangkrik, Cecil. Itu gak membantu. Itu malah bikin aku semakin sedih. Tapi aku tetap memasang wajah datar. “Iya sih tapi ah gak tahu deh.”
Aku pun pergi ke belakang kelas dan duduk bersandar pada tembok. Aku melirik Sheryl yang sedang dikerumuni para cowok termasuk Robb. Sheryl sangatlah cantik dan dia pintar. Rasa iri sepertinya mulai datang padaku. Aku pun menutup mataku.
Cecil datang dan menemaniku duduk dan tak lama kemudian Sheryl juga datang.
“Alina kamu jangan jadi suka sama Robb deh.” Kata Sheryl.
Apa? “Hah kenapa?”
“Iya dia suka sama anak kelas lain.”
“Kamu tahu dari mana, Sher?” Tanya Cecil.
“Tadi dia ngomong sendiri kok.” Jangkrik, Sheryl. “Udah sekarang aku gak akan gangguin kamu sama dia lagi. Kamu gak keburu suka sama dia kan?”
Aku melirik Cecil. Ah rasanya sakit sekali. “Nggak lah.”
Sialan.
“Pulang yuk Cil.” Kataku.
Sambil berjalan ke depan gerbang aku terus-terusan menunduk. Kenapa harus kayak gini? Semua pemikiranku tentang Robb pun runtuh. Tapi aku mencoba berpikir kalau ini yang terbaik. Mungkin aku harus tetap mengejar Ben?
“Udah jangan sedih gitu, Lin.” Kata Cecil.
“Nggak kok.” Aku memaksakan senyuman. “Ngomong-ngomong besok kamu ikut acara gowes ya?”
“Iya nih. Lumayan sih bisa sepedahan dan gak usah pakai baju Jumat pula.”
“Ih tapi aku nanti duduk sama siapa?”
“Duduk sama Sheryl aja lagian acaranya juga gak akan lama kali.”
“Oh okay, kalau gitu aku pulang dulu ya, Cil.” Aku pun menyebrang jalan menuju jemputanku.
Mungkin ini memang hal yang tepat. Mungkin ini pertanda kalau aku seharusnya gak suka Robb. Aku belum jatuh terlalu dalam. Aku masih bisa menarik perasaanku. Mungkin aku akan kembali mengejar Ben lagi.
Mungkin.
Next: Love is a Story Without Ending #2 (One Door Swinging Open, One Door Swinging Close)

0 Response to "Love is a Story Without Ending #Prequel (Short Story)"

Post a Comment