Love is a Story Without Ending #2 (Cerpen)
Posted by Unknown , Tuesday, April 29, 2014 5:13 AM
Hey semuanya, cerpen baru nih. Ini mungkin jadi cerpen terakhir love is a story without ending. Tapi mungkin ya. Rasanya sangat sulit menulis yang ini dan aku menulis ini untuk seseorang. Yah walau kesempatan dia baca ini kecil tapi aku tetep berharap dia baca ini. Enjoy guys xx
Love
is a Story Without Ending #2
(At
Last)
Di dunia nyata kau harus
benar-benar membuat pilihan yang tepat. Pilihan itu ada banyak sekali dan akan
datang terus menerus. Jika kau membuat pilihan yang tepat, melakukan sesuatu
yang benar maka hidupmu akan baik-baik saja tapi jika tidak, yah kau akan
menyesal. Dan sekarang aku sadar kalau kita tidak bisa memilih kembali.
Kesempatan kedua? Itu adalah sesuatu yang sulit kau dapatkan.
Dan aku telah menentukan
pilihanku. Aku melakukan sesuatu yang aku kira merupakan sesuatu yang sepele
tapi ternyata apa yang aku lakukan merupakan sesuatu yang besar baginya. Kau
tahu, jika kau mencintai seseorang, benar-benar mencintainya maka sebaiknya kau
cintai dia sepenuh hati dan jangan bertingkah egois karena aku melakukannya,
bertingkah egois dan di sinilah aku. Penuh penyesalan dan rasa bersalah.
Aku menyukai gagasan love is
a story without ending, cinta adalah sebuah cerita tanpa akhir. Aku tidak
tahu dari mana datangnya gagasan itu tapi aku benar-benar menyukainya. Tapi.
Bukan itu yang terjadi padaku sekarang. Bukan sebuah awalan atau isi yang akan
aku ceritakan. Tapi sebuah akhir.
Aku kira cinta itu cerita tanpa
akhir tapi ternyata cinta adalah sebuah cerita penuh akhiran. Kau akan
menemukan banyak akhir dalam sebuah cinta. Dan akhiran itu merupakan sebuah
cerita pula. Jadi, cinta adalah sebuah buku dengan setiap bab yang memiliki
suatu keunikan sendiri dan bab itu memiliki akhir. Seperti cinta.
Kalian ingat Robb? Cowok yang
aku taksir setelah Ben. Cowok yang benar-benar membuatku yakin bahwa masih ada
cinta di dunia ini saat aku benar-benar mulai mengira kalau cinta merupakan hal
paling menyakitkan di dunia. Robb lah cowok yang membuatku bangkit kembali. 1
bulan lebih aku bersamanya dan yah sekarang dia hanyalah sebuah bab seperti
Ben. Semuanya harus berakhir.
Saat hari Senin aku masuk
sekolah dan langsung duduk di tempatku biasa bersama Cecil tapi aku tahu hari
itu Cecil tidak masuk. Jadi aku menunggu Sheryl. Dan setiap detik berlalu
rasanya sangat menyakitkan. Aku terus-terusan melirik ke arah Robb. Aku terus bertanya-tanya
apa yang mungkin dia pikirkan sekarang. Kemarinlah hari dimana aku mengacaukan
semuanya dan rasanya seperti sudah sangat lama tetapi rasa sakitnya belum juga
menghilang.
Ini seperti Ben lagi. Hanya
saja kali ini rasa sakitnya berbeda. Saat Ben, aku tahu itu bukan salahku dan Ben
adalah orang yang sangat berbeda dari Robb. Rasa sakit ini lebih menyakitkan
karena aku tahu ini salahku. Aku mengacaukan semuanya.
Robb tertawa dan bergurau
bersama teman-temannya. Ya ampun rasa sakitnya tak tertahankan. Tidak kah dia
merasakannya? Tidak kah dia merindukanku? Karena itulah yang aku rasakan. Aku merindukannya
dan di setiap nafas yang ku hembuskan, aku merasakan sakitnya patah hati.
Saat aku memberitahu Sheryl aku
sangat ingin menangis tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa menangis di hadapan
Robb. Aku tidak bisa memperlihatkan padanya apa yang aku rasakan. Aku tidak
bisa terbuka padanya. Dan itulah kesalahanku. Sekali lagi aku melakukan
kesalahan.
Bahkan temanku Tasha tak
menggangguku hari itu. Biasanya dia adalah orang yang sangat senang
menggangguku. Tapi hari itu tidak. Aku sudah dekat dengan Tasha sejak yah sejak
bab Robb dimulai. Tasha adalah teman yang sangat baik walau dia punya sifat
pengganggu. Dan hari itu dia merasa kasihan padaku dan itu sungguh...wow untuk
level Tasha.
Tapi aku butuh Cecil hari itu.
Aku membutuhkannya dan dia tak ada. Menyedihkan. Dia adalah sahabat yang paling
enak diajak curhat. Dia memang selalu mengatakan sesuatu yang bisa membuat aku
sedih atau apa tapi itulah yang aku butuhkan. Dia terbuka padaku dan dia
memberikan nasihat yang berguna. Kemana Cecil saat aku butuh dia?
Ini memang bab Ben terulang
lagi. Robb bilang kalau kita akan berteman dan aku belajar dari Ben untuk
cobalah untuk menerimanya dan aku melakukannya pada Robb kali ini. Tapi dia
sama sepertiku dulu. Kami berpapasan dan tak ada apapun. Seperti awal dulu
kelas 9 dulu. Seperti kami berdua belum saling kenal. Bahkan rasanya seperti
dia tidak ingin ada didekatku. Seperti, aku ini tidak ada. Dan itu menyakitkan
dan mungkin itulah yang di rasakan Ben dulu. Oh ya ampun aku ini orang yang
buruk.
Aku tidak bisa menahannya lagi.
Saat pulang sekolah di hari jumat, aku pun memberanikan diri untuk berbicara
dengan Robb. Saat itu kelas sudah mulai sepi dan hanya ada beberapa anak yang
sedang mengerjakan soal. Saat aku mendekati Robb dia pun kabur. Hey ini
benar-benar seperti bab Ben. Aku mengejarnya dan ternyata dia sedang berdiri di
dekat tangga dan sambil berlari aku memanggil namanya.
“Hey.” Sapaku.
“Hai.” Sapanya dengan nada
terganggu.
“Aku ingin mengatakan sesuatu
padamu.” Aku pun cepat-cepat menambahkan. “Sebentar saja. Hanya sebentar.”
“Baiklah, katakan saja.”
Aku pun menarik nafas.“Robb,
aku—aku mau meminta maaf. Itu semua salahku, aku bertingkah sangat egois
kepadamu dan aku sadar kau berhak marah padaku karena aku mendiamkanmu selama
sehari. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya aku rasa aku hanya inginkan
perhatianmu, Robb. Dan aku akui tindakanku salah. Itu sangat egois dan aku
minta maaf.”
Robb mengangkat bahunya. “Itu
sudah terjadi, Lin dan aku memaafkanmu kok.”
“Jadi, bagaimana kita sekarang?”
“Kalau kamu mau balikan lagi,
maaf Lin aku tidak bisa memberikannya padamu.” Robb menunduk. “Aku memaafkanmu
tapi bukan berarti aku melupakan apa yang kamu lakukan. Kamu pikir aku tidak
khawatir melihatmu hanya membaca pesan dariku dan kemudian tidak ada pesan
darimu untuk seharian penuh? Aku sangat khawatir dan itu menyakitkan bagiku.”
“Robb—“ Aku mulai merasakan air
mata menuruni pipiku.
“Aku gak bisa menjalani sebuah
hubungan seperti itu, Alina. Dan itu bukanlah sekalinya kamu menyakiti aku. Kamu
sangat egois dalam sebuah hubungan, Lin kamu harus sadar itu.” Kata-kata Robb benar-benar
menusukku dan aku mulai menangis. “Dan aku hanya berharap kamu tidak akan
seperti itu pada cowok lain. Sampai jumpa, Alina.”
Dan Robb pun pergi meninggalkanku
yang berlinangan air mata. Dia benar. Aku sangat egois. Oh Robb aku sangat
menyesal. Aku minta maaf. Aku mencintaimu Robb. Ya, sangat mencintaimu. Tapi
sepertinya terlambat untuk mengatakannya sekarah eh? Selama bersamamu, Robb,
aku selalu menahan diriku. Aku tidak pernah membiarkan diriku jatuh sepenuhnya
kepadamu. Tapi tetap saja apa yang menahan diriku tidak menyelamatkanku
sekarang. Malah hal itulah yang membuat kita berdua berpisah.
Dalam semua bab di semua cerita
pasti ada amanat tersembunyi. Dan begitu pula dengan bab cinta. Bab Ben dan
sekarang Bab Robb yang baru tertutup, semuanya ada amanat. Dan jangan takut
karena di setiap akhiran bab, kau akan menjadi orang baru yang lebih baik. Kau
hanya perlu belajar.
Dan aku pun sadar. Dunia ini
mengajarkan kita untuk tidak egois. Kita harus selalu melihat sekeliling kita,
kita harus sadar akan apa yang kita punya. Karena kau baru sadar bahwa kau
memiliki sesuatu yang berharga untukmu saat sesuatu yang berharga itu sudah
hilang meninggalkanmu.
Dan kesempatan kedua? Oh kesempatan
kedua itu ada, tetapi bukan seperti yang kau harapkan. Bisa saja itu sesuatu
yang baru dan lebih baik dari sebelumnya. Untuk sekarang aku harus berpegang
pada itu.
Untuk Robb aku hanya bisa
meminta maaf untuk sekarang. Kalau kesempatan keduaku ada padamu, maka aku akan
dengan senang hati membuka bab baru bagi kita. Dengan aku yang baru, yang lebih
baik.
Dan Love is a Story Without
Ending. Hidupku masih berjalan, ini bukan sebuah akhiran. Aku akan dengan
senang hati menerima cerita baru, bab baru. Kita lihat saja.





















Post a Comment