Love is a Story Without Ending #1 (Short Story)

Posted by Unknown , Sunday, March 30, 2014 2:07 AM


Hey Semuanya. Kali ini aku punya cerpen untuk kalian. Aku gak tahu kenapa aku nulis cerpen ini dan tadinya aku gak akan nge-post ini tapi aku harus mengeluarkan ide-ide dikepalaku ini. Dan inilah cerpennya. Cerpen ini adalah cerpen pertama dari serial cerpen Love is a Story Without Ending
Jadi di sini cerpennya menceritakan Alina, seorang cewek yang duduk di kelas 9. Ini menceritakan kisah cinta Alina mulai dari dia merasakan sakitnya putus dengan pacarnya sampai akhirnya dia belajar untuk jatuh cinta lagi. Ini cerpen pertama dan memang sedikit berantakan tapi aku harap kalian suka. Enjoy guys xx



Love is a Story Without Ending #1
(Truth or Dare, From the Beginning Til The End) 

Kata-kata yang menyayat hatiku masih terbayangkan. Satu bulan. Sudah lebih dari satu bulan sejak aku mendengar kata putus namun satu kata pahit itu masih selalu saja membajak pikiranku.
Aku harus mengakui bahwa aku sangat sangat sangat menyukai dirinya dan aku masih menyukai dia. Saat kami bersama itu bagaikan sebuah mimpi namun saat akhirnya dia mengakhirinya adalah saat aku bangun. Dan itu menyakitkan. Aku berharap aku dapat kembali ke dalam mimpi itu.
Dan itulah yang selalu aku inginkan. Itulah yang selalu aku pikirkan. Aku ingin kembali padanya. Aku tahu bahwa suatu saat aku harus melepaskannya pergi. Tapi tidak untuk sekarang. Karena aku tahu cinta butuh perjuangan dan itulah yang akan aku lakukan.
                                                            ***
Hari ini adalah hari Jumat dan di sekolah akan ada acara jadi aku yakin pasti hari ini gak akan belajar. Senangnya. Saat sampai di sekolah, halaman depan sekolah sudah dipenuhi oleh orang. Aku benci banyak orang jadi aku langsung pergi ke kelasku.
Aku langsung duduk di samping sahabatku, Sherly. Biasanya aku duduk bersama Cecil tapi hari ini dia ikut acara jadi yah Sherly pun jadi. Cecil dan Sherly adalah dua sahabatku yang sudah menjadi udara bagiku di sekolah. Kalau gak ada mereka tuh rasanya hampa banget. Sebenarnya aku punya 3 sahabat saat di kelas 8 tapi ada pemisahan kelas saat naik ke kelas 9 jadi hanya Sherly dan Cecil saja masih nempel denganku.
Tapi.
Kebetulan hari itu sahabatku yang terpisahkan itu datang ke kelasku. Erlin namanya. Dia langsung menghampiri mejaku. Aku dan Sherly pun tersenyum sambil menyapanya.
“Eh si Cecil mana? Biasanya dia yang paling rajin datang duluan.” Kata Erlin.
“Dia ikut acara gowes tapi nanti kalau udah selesai dia pasti ke sini.” Kata Sherly.
“Oh gitu. Eh Lin, kamu ada wifi gak? Minta dong.” Kata Erlin padaku.
“Dasar jadi kamu kesini cuman mau minta wifi? Ya udah tunggu.” Aku pun menyalakan wifi tab aku.
“Hehe sorry. Ya udah thanks ya aku mau ke kelas dulu.” Erlin pun pergi meninggalkan kelasku.
“Dasar Erlin.” Gumamku.
Sambil menunggu Cecil, aku dan Sherly pun sibuk internetan di laptop masing-masing. Kami berdua sama-sama sibuk dengan blog masing-masing karena memang tugas bulan ini adalah untuk membuat blog.
Tak terasa akhirnya acara gowes di sekolah pun selesai. Aku tersenyum saat melihat Cecil berdiri di depan pintu kelas. Aku melambaikan tanganku padanya.
“Eh Cecil, gimana acara gowesnya?” Tanyaku.
“Apaan gak rame.” Kata Cecil sambil duduk di bangku di samping bangkuku.
“Ah gak rame itu udah biasa.” Kata Sherly bercanda.
“Oh ya, Alina pinjem laptop dong aku juga mau ngedit blog aku.” Pinta Cecil.
Aku gak bisa berkata tidak pada Cecil. Jadi aku langsung bangkit dari bangkuku dan berjalan keliling kelas melihat teman-temanku yang lain yang memang juga sedang sibuk dengan blog mereka.
Sampai akhirnya aku melihatnya.
Ben. Cowok yang pernah membuat hidupku lebih berarti. Cowok yang sekarang malah membuatku kesakitan. Aku sangat ingin berbicara dengannya lagi pula dia pernah bilang kalau kita akan tetap jadi teman tapi aku takut. Aku masih takut. Tapi ya ampun dia sangat tampan. Ekspresi datar wajahnya, matanya yang terfokus pada layar laptop, rahangnya, jemarinya yang menari-nari di atas keyboard. Keberanianku pun datang dan aku pun menghampirinya.
“Ben.” Kataku sambil duduk di sampingnya.
Dia masih terfokus pada layar laptop.
“Ben nama blog kamu apa?”
“Apa ya?”
“Seriusan Ben, nanti biar aku follow.” Aku melirik layar laptopnya tapi dia malah menggesernya. “Ih Ben kasih tahu plis.”
“Hmm susah namanya.”
Tanganku mulai bergetar. “Ben buruan apa namanya?”
“Nggak ah.” Ben pun bangkit dan langsung pindah kursi.
Dengan spontan aku langsung berteriak. “Pergi aja pergi sana—“ Itulah yang selalu kamu lakukan Ben, Pergi dari diriku.
“Eh busyet.” Adalah kata yang dia katakan.
Aku pun kembali menghampiri Sherly dan Cecil. Mereka sudah menutup laptop mereka dan sekarang sedang mengobrol dengan Terra dan Ren. Aku langsung meremas pundak Cecil.
“Huh galau aku, Cec.” Kataku.
“Hmm itu sih udah jadi makanan sehari-hari kamu kali, Lin.” Kata Cecil.
“Dasar.” Kataku sambil mendorong Cecil.
“Eh main truth or dare yuk!” Ajak Ren.
“Ayo deh ayo.” Kata Sherly dengan semangat.
“Huaaa main ToD itu bikin flashback deh.” Gumamku.
Cecil yang mendengarnya langsung senyum-senyum. “Kali aja ToD kali ini kayak yang waktu itu ya Lin, bawa untung.”
Aku langsung cemberut sambil melirik Ben yang sedang asyik memandangi laptopnya. “Mungkin.”
Permainan pun dimulai tapi ternyata beberapa teman kami yang tahu kami sedang bermain ToD langsung ikutan. Permainan dimulai dari Cecil. Dari sejak kenal temanku yang satu ini aku gak pernah denger dia ngeceng anak satu kelas. Jadi gak rame deh. Akhirnya setelah Cecil, bagianku pun datang.
Truth aja deh.” Kataku.
Sherly dan Cecil langsung menyeringai. Pertanda buruk.  Aku langsung tahu apa yang akan mereka tanyakan. Tidak.
Aku langsung memelototi mereka. “Jangan tanya yang itu.”  
“Gak apa-apa lah ya.” Kata Cecil.
“Iya lagian kita semua gak akan ngasih tahu ke orangnya kok.” Kata Sheryl. “Ya kan semua?”
Semua peserta ToD langsung mengangguk dan aku pun menghela nafas. “Ya udah deh ya udah.”
“Kamu beneran suka sama Robb?” Tanya Sheryl.
Robb. Beberapa minggu setelah aku putus dengan Ben, guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas untuk membaca roman dan bagi orang yang memiliki roman yang sama akan secara otomatis menjadi satu kelompok. Kebetulan aku membeli Tenggelamnya Kapal van Der Wijck dan ada 11 orang yang memilih novel itu, termasuk Sheryl dan Robb. Selain membaca kami juga disuruh maju untuk membaca sinopsis. Agar sedikit berbeda maka kelompok kami memilih untuk menampilkan drama. Awalnya pemainnya adalah Robb, Jason dan mantannya Robb, Vita. Tapi Vita menolak perannya. Jadi aku yang menggantikannya.
Dan setelah drama selesai, beberapa hari kemudiannya Sheryl dan Cecil tiba-tiba mengejekku dengan Robb.
“Udah kalian cocok loh, tanggal jadian sama, eh bulan diputusinnya sama juga.” Kata Cecil.
“Iya, ayo move on dong dari si Ben.” Kata Sheryl. Hmm Sheryl, emang move on itu gampang apa?
Yah harus aku akui mereka hampir berhasil buat aku move on ke Robb tapi...
Saat aku menceritakannya pada Cecil, dia berkata kalau malah kelihatannya Robb itu semacam lebih tertarik sama Sheryl dan di hari yang sama pula aku mendengar dari Sheryl kalau Robb suka anak kelas lain. Damn.
Kembali ke permainan ToD. Aku langsung cemberut saat teman-teman yang lainnya mulai ribut. Aku melirik Robb dan berharap kalau dia gak denger semua ini.
“Diem ya diem, jangan sampai si Robb tahu.” Kataku. “Hmm I used to like him. Used as in the past.
“Yaaah kenapa harus used.” Kata Vita. Damn aku lupa dia juga ikutan main ToD ini.
“Eh eh apaan ya, kamu nih kenapa pakai Bahasa Inggris sih aku gak ngerti nih.” Kata Jason. Jason sendiri merupakan teman Robb. Damn. “Ih apaan ya?”
Vita pun membisikan sesuatu pada Jason dan Jason pun mengangguk. Sementara itu Cecil yang sudah mengetahui semuanya hanya tersenyum sementara Sheryl terlihat senang. Duh Sheryl.
“Tapi cuman pernah suka ya. Aku gak jadi suka gara-gara kamu bilang dia suka orang lain, Sher.” Kataku
“Eh jadi pas itu kamu udah suka dia? Maaf maaf deh.” Kata Sheryl.
Permainan pun kembali berlanjut dan akhirnya setelah beberapa saat kemudian bagian Cecil datang lagi. Peraturannya pun diubah. Untuk yang tadi memilih truth kali ini harus dare dan sebaliknya. Setelah Cecil menyelesaikan dare nya saatnya giliranku.
“Lepas kacamata Robb.” Kata Ren.
Aku langsung kaget. “Ih apaan, gak mau ah. Gak mau ih, ganti ganti.”
“Hmm Ya udah gimana kalau kamu bilang ke Ben—“ Deg. Rasanya jantung aku berhenti tiba-tiba. “Bilang ‘Hey maaf ya untuk semuanya dan kira-kira masih ada kesempatan kedua gak buat kita?’”
“Apa?” Aku langsung ingin protes habis-habisan tapi hey lumayan nih. “Bisa ganti gak?”
“Yah pilihannya cuman lepas kacamata Robb sama bilang ke Ben.” Kata Sheryl.
“Ya udah deh ya udah. Tapi mana Ben?” Tanyaku sambil melirik ke sekeliling kelas.
“Tuh di pojokan tuh.” Cecil menujuk Ben yang sedang duduk di lantai sambil memangku laptop.
Aku dan beberapa orang pun langsung berjalan menuju Ben. Aku duduk di hadapannya dan dia hanya mengangkat alisnya.
“Ben, dare nih.” Kataku. “Duh aku mau bilang—“
Ben pun langsung berdiri dan pindah ke bangku di depan. Jangkrik. Aku rasanya pingin nangis di situ tapi aku gak boleh nangis hari ini. Gak boleh. Aku pun memberanikan diri untuk mengejar Ben ke depan.
“Ben dengerin dulu, cuman dare  ini kok.” Kataku sembari duduk di handapannya.
“Ya udah deh, mau ngomong apa?”
Dengan cepat aku pun berkata: “Maaf ya untuk semuanya dan kira-kira masih ada kesempatan kedua gak buat kita?”
Ben hanya terdiam. Sialan wajah dia itu gak ada ekspresi sama sekali. Kok bisa sih Ben?
“Aku—sebenernya ini kesempatan sih jadi boleh gak aku ngomong sesuatu yang lain? Karna setiap aku mau ngomong kamu kabur sih.” Kataku.
Ben mengangguk pelan. “Ya udah ngomong aja.”
Aku menarik nafas. 1 bulan. 1 bulan sudah aku bertanya-tanya dan berharap dapat menanyakan langsung seluruh pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Selama 1 bulan seluruh kata sudah aku tata tapi sekarang, di hadapannya, seluruh kata itu menghilang begitu saja.
“Duh gini. Ben ini udah 1 bulan tapi entah kenapa aku gak bisa ngelupain kamu gitu aja, aku gak bisa lupain sakitnya hari itu. Sebenernya Ben aku masih gak ngerti kenapa kamu mutusin aku—“ Aku membiarkan air mataku menuruni pipiku. “Kamu bilang perasaan kamu udah beda tapi aku masih gak ngerti itu. Aku gak pernah bisa ngerti itu Ben, kenapa? Kenapa kamu mutusin aku?”
Ben terdiam sejenak. “Itu sih salah akunya sendiri, Lin. Duh aku juga gak bisa ngejelasinnya sih tapi yah gimana yah perasaan aku tuh ke kamu emang udah serasa biasa aja, kayak temen biasa.”
“Aku gak bisa ngertiin itu Ben.” Kataku.
“Duh aku juga bingung tapi seharusnya kamu gak pernah suka sama aku.”
Apa-apaan? Kenapa dia ngomong gitu? Hah? Kenapa? Ini apa?
“Eh Ben gak boleh gitu.” Kata Cecil yang duduk di sampingku.
Aku diam sejenak sambil mengelap air mataku dengan tisu dari Sheryl. “Tapi Ben, masih ada gak kesempatan kedua? Aku mau membuat semuanya benar kali ini. Aku akuin aku egois dulu tapi sekarang aku mau memperbaiki semuanya.”
“Gimana yah?” Butuh beberapa menit bagi Ben. 30 menit sebenarnya. Aku duduk di sana selama 30 menit menunggu dia mengatakan sesuatu. Aku terus menceritakan keluhanku kepadanya. Aku menceritakan semuanya dan aku selalu mengulangi pertanyaanku lagi. Tapi dia masih belum menjawab. Dan 30 menit itu diakhiri dengan bel pulang.
“Yah Ben, jawab plis.” Kataku pada akhirnya.
“Gimana yah? Kesempatan kedua tuh ada sih Alina tapi kalau sekarang aku gak bisa ngasih itu. Mungkin lain kali.” Katanya.
“Ben, aku butuh jawaban pasti. Jawabanmu itu terdengar seperti kamu ngasih harapan untuk aku.”
“Yah mau gimana lagi sih.”
“Jawaban kamu masih aku anggap menggantung. Kamu boleh kok kasih tahu aku di DM twitter.” Kataku dan aku pun langsung pergi dengan Cecil.
“Eh Cil, kira-kira dia bakalan bilang gak yah?” Tanyaku.
“Yah kamu tungguin aja lah.”
“Tapi nunggu itu capek.”
“Sabar aja Lin. Ngomong-ngomong jawaban dia terakhir itu ya—“
“Iya kenapa?”
“Kayaknya dia itu suka sih masih tapi yah itulah perasaannya dia itu, dia gak bisa ngertiin perasaannya sendiri. Jadi kayaknya dia itu sekarang ini lagi mencoba ngertiin perasaanya dia dan di satu sisi dia juga masih sayang sama kamu jadi dia ngomong gitu yah karena dia gak mau aja kehilangan kamu karena dia takut nyesel nantinya.”
“Yah tapi aku gak mau digituin, Cil. Aku maunya jawaban pasti biar kalau aku tahu emang gak ada harapan kan aku bisa move on yah okelah ke Robb gitu.”
Cecil langsung senyum. “Ya udah mending sekarang kamu nunggu dia DM kamu atau nggak hari ini nah kalau emang enggak yah berarti kamu mending coba move on deh.”
Aku pun menarik nafas. “Ya udah deh.”

Keesokan harinya di sekolah.

Aku menaruh tasku di tempat dudukku karena hari ini ada TO jadi aku tidak duduk dengan Cecil karena duduknya menurut absen. Aku langsung menghampiri bangku Cecil. Mejanya berada di belakang bangku Ben. Oh Ben. Aku langsung duduk merosot sambil mengerang.
“Kamu kenapa Lin?” Tanya Cecil sambil masih terus membaca matematika. “Oh ya gimana si Ben? Udah di jawab?”
Aku langsung duduk tegak. “Dijawab dari mananya? Aku bulak-balik ke twitter sejak pulang sekolah eh dia gak nongol. Gak ada sama sekali kabar dari dia. Aku sampai hampir gak belajar gara-gara nunggu DM dari dia.”
“Yah sabar ya, Lin.” Cecil pun mengelus pundakku.
Aku pun melirik ke pintu menunggu Ben dan akhirnya dia pun datang. Dengan wajah datarnya dia langsung menuju tempat duduknya. Dia langsung menaruh tasnya dan pergi. Dia pergi. Apa-apaan?
Dari situ sesuatu mengetuk pikiranku. Aku gak bisa terus-terusan menunggunya. Aku harus move on. Sesulit apapun itu harus tetap aku jalani. Aku pun mulai membaca materi TO bersama Cecil.
Saat istirahat tiba aku, Cecil dan Sheryl pun pergi ke koprasi setelah itu kami kembali ke kelas. Saat di jalan kami berpapasan dengan Ben. Biasanya aku akan memberanikan diri untuk menyapanya tapi sekarang aku mempercepat langkahku dan melewatinya dengan wajah datar.
Saat di kelas setelah aku mengambil hp dari tasku, aku dan Cecil pun pergi ke bangku Cecil. Di dekat sana ada Ari dan Robb yang sedang membaca koran di meja guru yang kebetulan dekat dengan bangku Cecil.
“Eum pantesan mau ke bangku aku. Ternyata mau modus.” Kata Cecil dengan sedikit keras.
Sambil melewat di dekat Robb dan Ari aku pun berkata: “Modus sama yang mana ya?”
Tiba-tiba Ari tertawa. “Eh Robb itu Robb.”
Aku entah kenapa langsung salah tingkah sambil duduk di bangku Cecil. Aku melirik Robb yang berada tidak jauh di hadapanku. Jangan-jangan...
Saat Jason datang dengan beberapa teman-teman Robb lainnya mereka pun mulai menggangguku. Menggangguku dengan Robb.
“Ih kok kalian tahu sih? Jason kamu kasih tahu mereka?” Kataku.
“Ih enggak itu sih mereka tahu sendiri.” Kata Jason.
“Iya soalnya si Jason tuh gampang ditebak sih.” Kata Irvine.
“Loh terus orangnya tahu?” Tanganku sudah berkeringat.
“Tahu lah. Kan tebak-tebakannya kemarin di angkot sama Robb.” Kata Irvine.
“Ih Ohmygod Jason. Yah gimana dong aduhhh.” Aku langsung salah tingkah gak karuan.
Tapi tiba-tiba Irvine mengatakan sesuatu yang mengubah semuanya. Sesuatu yang menurunkan kembali tembok yang aku bangun. Sesuatu yang mengubah perasaanku. Irvine berkata:
“Tenang aja. Dia tahu dan ini sih gak akan salah suka.”

Bersambung.

0 Response to "Love is a Story Without Ending #1 (Short Story)"

Post a Comment